Menyusup Dalam Gelap: Wajah Hitam Kejayaan Salim Group

Anotasi :

Di dalam buku ini, penulis secara khusus menjelaskan kasus dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Melalui konspirasi yang sempurna, para konglomerat hitam Orde Baru pimpinan mantan Presiden Soeharto sukses memperdaya uang negara lebih dari Rp 650 triliun. Jumlah tersebut belum ditambah lagi dengan bunga obligasi rekap yang harus ditanggung negara per tahunnya sebesar Rp 60 triliun hingga tahun 2030. Kesuksesan bisnis Liem tidak bisa dilepaskan dari kedekatannya dengan Soeharto, yang merupakan salah satu komponen penting Angkatan Darat. Perjalanan bisnis Liem telah dimulai setelah kemerdekaan pada 1945, di mana ia memegang kendali sejumlah aktivitas bisnis seperti pabrik sabun skala kecil, yang memiliki jalur hubungan bisnis dengan Angkatan Darat yang memiliki pamor tinggi pada zaman tersebut. Ekspansi bisnis anak-anak Soeharto dan Salim Group juga diduga menyumbang pembekakan hutan swasta Indonesia ke bank-bak Internasional yang diperkirakan mencapai US$ 65 miliar-US$100 miliar. Buku ini juga menyampaikan bagaimana generasi kedua Salim, yaitu Anthony Salim yang tetap berjaya melalui berbagai pengistimewaan. Berkenaan dengan krisis moneter 1997, pada 1998 Salim Group menekan perjanjian dengan BPPN dalam MSAA untuk membayar utang BLBI yang dinikmati BCA, dan diikat untuk menyerahkan 104 perusahaannya kepada pemerintah yang kemudian memunculkan permasalahan baru pada 2006. Penulis menemukan bahwa rentetan fakta dalam gugatan tahun 2006 memperlihatkan adanya diskriminasi dan kepura-puraan dalam penegakan hukum yang melibatkan kroni Soeharto.  Ketidakseriusan negara dalam menangani kasus ini diperlihatkan di dalam buku, mengenai bagaimana Salim Group tetap tumbuh besar seiring dengan kasus yang melibatkannya. Dalam buku ini, penulis berpendapat bahwa pembiaran terhadap kesalahan dan dosa para konglomerat perampas uang rakyat akan berdampak sangat besar, meliputi dampaknya pada sistem hukum dan sosial Indonesia.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email
Print