Annyeong Haseyyo, The May 18 Academy 2017: Catatan Perjalanan ke Korea Selatan

Oleh : Aditia Bagus Santoso[1]

Kegiatan yang saya ikuti bernama “The May 18 Academy 2017”. Kegiatan yang diinisiasi The May 18 Foundation yang berkantor di Gwangju Korea Selatan ini bertujuan menyebarkan nilai-nilai hak asasi manusia atas kejadian di Gwangju pada 18 Mei 1980. Kami menghabiskan empat hari di Seoul dan 14 hari di Gwangju untuk seluruh kegiatan. Penulis mendapatkan banyak cerita untuk dapat mendalami kejadian yang terjadi di Gwangju yang sering disebut “Gwangju Uprising ini. Menariknya, kegiatan ini tak hanya membahas sejarah kelam serta kejahatan yang terjadi pada 18 Mei 1980 saja, namun juga diselingi wisata budaya tradisional dan modern dari Korea Selatan.

Akademi dimulai dari Seoul. Kami menginap di Hostel Katolik yang biasa disebut “Junjinsang” dan bersebelahan dengan Gereja Katolik yang terletak di tepi Sungai Han yang legendaris dan memesona. Hari berikutnya, kami sudah diberikan ilmu dan pengalaman dari Dukjin Kim, ia adalah Sekretaris Jenderal Gereja Katolik di Korea Selatan yang juga merupakan tokoh sentral dalam Gerakan Aksi Lilin yang terjadi di seluruh kota di Korea Selatan pada 2016-2017. Candlelight Vigil 2017 merupakan aksi damai mendesak Presiden Park Geun-hye untuk mundur dari posisinya karena diindikasikan menggunakan posisinya untuk mengambil keuntungan pribadi dan kelompok.

Dukjin Kim menjelaskan bahwa orang Korea Selatan sudah mempunyai jiwa sosial dan kepedulian yang tinggi, sehingga gerakan untuk menurunkan Presiden tersebut dapat terlaksana. Ada sekitar satu juta orang yang berkumpul di pusat kota Seoul hanya untuk menghidupkan lilin dan mendesak Presiden Park untuk turun. Aksi tersebut dilakukan 23 kali dengan total demonstran kurang lebih 30 juta orang. Aksi itu berbuah manis; parlemen Korea Selatan memberhentikan Presiden Park setelah adanya putusan pengadilan terhadapnya. Ini memeperlihatkan bahwa pimpinan yang salah dapat dikalahkan dengan kekuatan masyarakat yang benar. Seberapa pun kuat pemimpin Korea Selatan sekarang, kekuatan rakyat lebih kuat. Di sinilah letak nilai penting demokrasi yang sebenarnya. Fase yang seharusnya dipahami masyarakat Indonesia, bahwa demokrasi tak hanya persoalan memilih dan dipilih oleh rakyat.

Sesi Anselmo Lee membicarakan mengenai kondisi HAM terkini di Korea Selatan dan negara lainnya. Korea Selatan saat ini mempunya perekonomian yang lebih kuat dan stabil jika dibandingkan dengan negara lain. Hal ini bukan karena demokrasinya semata, namun lebih pada pemenuhan hak asasi manusianya yang tak dapat dikesampingkan. Komisioner HAM Korea Selatan ini turut pula membandingkan kondisi kekinian Korea Selatan dengan negara lain salah satunya Indonesia. Menurutnya, dalam demokrasi dan gerakan masyarakat sipil Indonesia lebih unggul dan terdepan, namun masalah pemenuhan hak ekonomi tidaklah sebaik negara maju lainnya.

Di Seoul, kami juga melihat dari dekat batas antara Korea Selatan dengan Korea Utara dalam Demilitarization Zone Tour (DMZ Tour). Daerah yang disebut sebagai Demilitarization Zone ini merupakan zona “damai” antara Korea Selatan dan Utara karena tak ada militer yang berkuasa di zona ini. Selain mengunjungi DMZ, kami juga melihat lebih dekat tepi Sungai Hans yang memang punya cerita sendiri. Sungai Hans menjadi pusat perekonomian Korea zaman dahulu hingga sekarang. Kami melihat keindahan lampu kota Seoul dari atas pesiar yang melaju pelan di atas Sungai Hans. Kapal Pesiar disulap menjadi ruangan dengan deretan kursi berkapasitas 100 orang dan menampilkan pertunjukkan musik jazz dari penyanyi asal Korea. Tepat di atas jembatan, kami disuguhi tarian air mancur yang berwarna-warni. Air disemprotkan ke arah sungai dari atas jembatan yang disorot lampu sehingga menghasilkan gradasi warna yang menarik. Lebih kurang 10 menit pertunjukkan “waterfall rainbow” kami saksikan. Perjalanan pulang menjadi lebih banyak mengobrol dengan teman se-akademi.

Esok harinya, kami berkunjung ke Gyeongbook Palace yang terletak di seberang “Blue House” atau rumah Presiden Korea. Wisata ke Istana Gyeongbook ini dilaksanakan sebelum menuju sungai Hans. Istana bekas ini menjadi museum sekaligus objek wisata, terutama bagi wisatawan asing. Dengan dikelilingi pohon maple dan pohon cemara, terdapat belasan ruangan yang ke semuanya dahulu adalah kamar bagi penghuni kerajaan. Tak cukup waktu bagi kami mengunjungi seluruh ruangan yang bentuknya mirip-mirip tersebut karena esoknya kami akan ke Gwangju.

Kota Cahaya, dalam bahasa Indonesia, Gwangju dapat diartikan seperti itu. Selama 14 hari di Gwangju, kami mendapatkan akomodasi di May 18 Education Center. Gedung ini hanya berjarak lima menit berjalan kaki ke Gedung Pertemuan Kim Dae Jung. Tempat yang akan menjadi perhelatan World Human Right Cities Forum 2017. Tak langsung diajak “belajar berat”, keesokan harinya, kami diajak melihat “National Cemetary”.

May 18 Education Center tidak hanya terdiri dari gedung tempat kami menginap, juga terdapat bioskop untuk menonton film dokumentasi dari tragedi 18 Mei. Kami menonton bagaimana tank-tank berjejer di jalanan dekat pusat kota, air mancur/ fountain – yang kini telah menjadi bangunan Asian Culture Center – menembaki para demonstran. Kaca-kaca bus dan taksi yang dideretkan demonstran agar tentara tak bisa mendekat lebih dalam ke pemukiman telah pecah berkeping-keping ditembaki oleh peluru dari tank dan senapan tentara. Mayat dan darah berceceran di sekitar lokasi pada saat itu. Pada akhir film, ada cuplikan putusan pengadilan yang menyatakan bahwa Presiden Chun Doo-Hwan dinyatakan bersalah dan dihukum seumur hidup. Ini adalah momen klimaks yang ditunggu oleh keluarga korban. Ini pula yang menjadikan Korea Selatan lebih maju dibandingkan Indonesia. Mereka berani dengan lantang menyatakan kesalahannya dan tidak menyalahkan pihak lain. Mereka juga berani menghukum mantan pimpinan mereka sendiri. Sejarah dan fakta mengenai kejadian 18 Mei terungkap luas dan jelas sehingga tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Sehingga tidak ada korban atas tindakan salah informasi yang sengaja dikaburkan. Sedangkan Indonesia, sudah jelas ada jutaan orang dibunuh, namun orang lain yang dituduh bersalah dan membenarkan tindakan tersebut. Fakta dan sejarah masih gelap, kabur dan sengaja dibelokkan. Maka selamanya hal ini tidak akan pernah selesai dan akan terus dijadikan bola panas guna kepentingan politik praktis.

The National Cemantery terdiri atas pemakaman lama dan baru. Pemakanan lama berisi pejuang yang meninggal setelah kejadian 18 Mei hingga 27 Mei namun mempunyai peranan penting dalam memperjuangkan demokrasi dan HAM di Gwangju dan Korea Selatan. Di sini terdapat kolam batu yang merupakan susunan batu yang ditulis oleh para pengunjung. “Keep share this spirit around the World” adalah kalimat yang saya tulis di atas batu sebesar batako itu. Di sini kami dijelaskan mengenai sejarah para penghuni pemakaman ini. Kadang tak semua penjelasan dari pemandu wisata yang dapat dimengerti karena memang pelafalan huruf Korea ke Inggris menjadi permasalahan rata-rata orang Korea.

Di sekitar pemakaman lama, ada sebuah batu yang di atasnya ditulis nama Presiden Chun Doo-hwan. Batu itu diletakkan di jalan menuju pemakaman, seolah-olah yang berjalan di atasnya sedang menginjak-injak presiden yang menurut putusan pengadilan di Korea Selatan bertanggung jawab atas tragedi 18 Mei di Gwangju. Untuk pemakaman baru, kondisinya lebih bagus dan tertata. Kuburan dengan rapi berdiri untuk mengenang jasa-jasa para pendahulu mereka. Di balik nisan mereka, terdapat cerita mengenai diri mereka dan ada pula foto mereka di bagian depannya. Terdapat tugu yang begitu ikonik yang menggambarkan kedua belah tangan memegang sebuah telur. Maknanya adalah telur adalah sebuah benih kehidupan, maka tangan yang memegang menjadi penggambaran untuk terus menjaga benih kehidupan tersebut agar tumbuh baik.

Menjadi pengungsi saat umurnya belum cukup dewasa menjadi pengalaman hidup tersendiri bagi Yiombi Thona. Thona, salah satu pengajar di May 18 Academy 2017 adalah Profesor di Universitas Gwangju. Ia adalah bekas pengungsi dari Kongo yang saat itu sedang berkonflik. Menjadi pengungsi di daerah yang tak mengenal bahasa Perancis – b ahasa Republik Kongo – menjadikan Yiombi muda menjadi terkatung-katung di Korea Selatan. Namun pada akhirnya, ia menjadi profesor di negara yang bukanlah negara aslinya. Pengalaman ini menggambarkan bahwa kepedulian dan penghargaan orang Korea Selatan terhadap pengungsi dan orang asing tinggi. Tak memandang secara egosentris, namun memandang dari kemampuan yang dimiliki seseorang, ini membuat Yiombi menjadi profesor. Hal ini tak akan mungkin terjadi, jika masyarakat Korea menolak kepada pengungsi untuk belajar dan menempuh pendidikan. Patut diambil contoh bagi Indonesia, banyaknya pengungsi di Indonesia dibiarkan begitu saja. Hal ini karena Indonesia hingga kini masih enggan meratifikasi Konvensi mengenai pengungsi. Padahal sudah sepatutnya Indonesia melepaskan egonya dan segera meratifikasi konvensi tersebut karena jumlah pengungsi di Indonesia akan terus bertambah dan mereka tentu butuh kehidupan dan penghidupan yang layak sebagai manusia.

Setelah sesi Yiombi, giliran Yangrae Kim dari The May 18 Foundation memaparkan Yayasan 18 Mei yang didirikan di Gwangju. Yayasan ini pada awalnya didirikan untuk terus mengenang jasa-jasa para pahlawan yang mati di tangan tentara. Tak ingin kejadian tersebut terulang, rakyat Gwangju secara sukarela dan gotong royong dalam pendanaan mendirikan lembaga ini. Yayasan akan melaporkan seluruh kegiatannya secara rutin kepada rakyat Korea Selatan dan Gwangju, karena sebagian dana yang dimiliki Yayasan didapat dari anggaran pusat dan daerah. Tujuan besar yayasan ini adalah menyebar luaskan benih-benih kebaikan yang berisikan demokrasi dan HAM yang dapat ditiru dari masyarakat Gwangju.

Shariful Islam, asisten profesor dari Bangladesh, salah satu pengajar memaparkan mengenai kondisi hukum dan HAM dalam perspektif hukum internasional. Pengisi materi yang lain adalah adalah Jin Ahn, seorang musikus yang membuat dan mengaransemen lagu yang menjadi mars bagi Peringatan May 18 yakni Marching for Our Beloved. Lagu tersebut merupakan lagu penyemangat bagi peserta aksi. Dalam lirik lagunya, “we are marching on, keep faith and follow us”, Jin Ahn menjelaskan bahwa mereka adalah terus berbaris, tetap pada nasib dan ikut kami. Maksud dari “ikuti kami ini” menurut Ahn adalah merujuk pada kematian. Jadi peserta aksi demonstrasi sudah bakal yakin kematian akan mengikuti mereka, sehingga mereka merasa tidak ada yang perlu mereka takutkan lagi. Lirik dan lagu ini cukup membuat merinding. Jika didengarkan dalam versi dinyanyikan dalam secara beramai-ramai, akan membuat semacam kekuatan yang hebat. Sewaktu di Gwangju, lagu ini sering diputar di tempat-tempat umum, bahkan di suatu acara busking, lagu ini dibawakan dan diaransemen oleh band lokal di sana.

May 18 Archieves, merupakan satu kesatuan dengan kantor The May 18 Foundation. Di sana telah menunggu Daeyon Cho yang menceritakan bagaimana beliau mengumpulkan segala macam bentuk artikel, foto, video dan segala macam berkas yang terkait dengan kejadian 18 Mei di Gwangju. Cho pula yang diberikan tanggung jawab menjaga dan membuat eksibisi di seluruh penjuru Korea Selatan agar informasi mengenai kejadian 18 Mei 1980 di Gwangju tidak terputus dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Pengarsipan dan pendokumentasian adalah suatu nilai dan pengetahuan yang harus dimiliki oleh para public defender di mana pun berada. Dokumentasi dan pengarsipan yang baik akan menghasilkan data dan menjadikan senjata dalam melakukan advokasi. Oleh karenanya Cho turut pula mengkritisi kalau pejuang HAM tidak sadar bahwa pengarsipan dan pendokumentasian adalah penting dan merupakan bagian penting dalam advokasi itu sendiri.

Kami juga turut berpartisipasi dalam World Human Right Cities Forum 2017. World Human Right Cities Forum 2017 merupakan agenda tahunan yang berisi para aktor perubah kebijakan dari seluruh kota di seluruh dunia. Mereka  terpilih karena dedikasinya. Mereka didengar pendapatnya, termasuk pendapat untuk menjadikan suatu kota sebagai kota yang ramah HAM. Acara pmemberikan penghargaan bagi istri mendiang Presiden Kim Dae Jung yang telah membuat perubahan besar dalam demokrasi dan HAM di Korea Selatan. Selain itu forum ini memberikan penghargaan kepada beberapa pihak yang berhasil membuat perubahan. Forum ini turut menghasilkan suatu rekomendasi dan desakan bagi Myanmar dan negara lainnya. Misalnya, tragegi pengungsi Rohingya di Myanmar yang dibiarkan dan tidak ada tindakan tegas dari Myanmar. Rekomendasi atau lebih tepat disebut petisi ini ditandatangani oleh seluruh peserta termasuk peserta dari akademi. YLBHI menjadi salah satu pihak yang menandatangani petisi yang mendesak negara yang terkait agar lebih berkomitmen dalam penyelesaian masalah pengungsi Rohingya tersebut.

Malamnya kami diajak makan bersama di kantor Walikota Gwangju. Gedung yang didesain berbentuk seperti kapal ini berisi pula sejarah mengenai Tragedi May 18,  kota Gwangju sendiri, beberapa tokoh animasi yang lahir dari animator Gwangju, industri di Gwangju,  hingga penghargaan dan kostum tim sepakbola kebanggaan masyarakat Gwangju, yakni Gwangju FC. Kami pun diajak makan bersama di halaman berumput depan kantor Walikota. Setelah kata sambutan Walikota Gwangju, Yoon Jang-hyeon, kami segera menyantap makanan yang telah disediakan, karena memang kondisi saat itu cukup lapar dan letih. Makanan ringan seperti riceball yang merupakan nasi dibentuk bola-bola seukuran klepon dan di lumuri rumput laut, makanan berat beef bulgogi yang merupakan daging dibumbui dan dibakar, hingga penutup seperti kue manis mini muffin serta berbagai macam mie yang semuanya sangat memanjakan lidah.

Selesai agenda World Human Right Cities, kami bertandang ke Universitas Nasional Chonnam, yang merupakan kampus saksi bisu terjadinya tragedi 18 Mei. Gerakan yang sering disebut Gwangju Democratic Uprissing ini dimulai dari gerakan aksi yang melibatkan mahasiswa serta dosen di Chonnam. Tak heran, para pemimpin gerakan berasal dari Chonnam dan korban paling banyak berasal dari kampus Choonam ini. Desain gedung utama yang berkiblat ke Eropa menjadi tempat kami melanjutkan pembelajaran kami. Sebelumnya, kami diajak berputar dalam ruangan untuk melihat sejarah dan bukti peninggalan dari tragedi 18 Mei ini. Di sini kami belajar mengenai HAM dan gerakan sosial di negara Asia dan bagaimana perkembangannya oleh Park Haegwang. Lagi-lagi Korea maju pesat menurut penelitian yang dilakukan oleh Park, yang merupakan salah satu dosen di Universitas Chonnam. Park menjelaskan beberapa tahun terakhir seiring dengan sejahteranya masyarakat Korea Selatan, gerakan masyarakat sipil turut terdongkrak naik. Sehingga gerakan lilin atau candlelight vigil yang terjadi di 2016-2017 bukan sesuatu yang mustahil dilaksanakan oleh masyarakat Korea. Mahasiswa tak lagi menjadi tumpuan dalam gerakan sipil. Menurut saya, ini adalah salah satu indikator kuatnya gerakan sipil di masyarakat. Dibandingkan dengan iklim gerakan masyarakat sipil di Indonesia, Korea Selatan lebih maju. Di Indonesia, mahasiswa masih menjadi ujung tombak dan masyarakat lainnya seolah-olah apatis dan tidak mau tahu. Menurut saya, perlu adanya perubahan kesejahteraan terlebih dahulu seperti yang dilakukan oleh pemimpin Korea Selatan, barulah gerakan masyarakat sipil akan terlaksana dengan baik.

Pengetahuan yang kami peroleh dari universitas itu menjadi pelajaran kami terakhir di akademi ini.

Dalam agenda The May 18 Academy 2017 Closing Ceremony, kami diberikan sertifikat atas “kelulusan” kami. Kami berfoto bersama di dalam Aula May 18 Office. Saya adalah satu-satunya peserta yang memberikan kenang-kenangan, ini adalah momen yang membahagiakan. Sebuah t-shirt kampanye bertuliskan Bring Back Justice menjadi kenang-kenangan dalam May 18 Academy 2017 dari Indonesia, khususnya dari YLBHI. Semoga kelak keadilan dan HAM bisa terus tumbuh dan berkembang di Indonesia layaknya Korea Selatan. Kamsahamnida May 18 Foundation!

 

[1] Direktur LBH Pekanbaru.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email
Print
Close Menu